Pak Gogo
 |
|
Pak Gogo - atau lengkapnya Fransiscus Assisi Prayoga - dilahirkan di
Yogyakarta dua bulan setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga
- katanya sendiri - tidak sempat berjuang mengangkat bambu runcing. Tetapi
dia masih ingat sekali suasana yang dia alami waktu diajak, diboyong-boyong
oleh orang tuanya, Bapak dan Ibu Radjak Pringgosuparto, mengungsi di sekitar
Yogyakarta, Ambarawa dan Semarang.
|
Umur lima tahun masuk 'voorklaas' di Setjodiningratan,
Yogyakarta. Dia masih ingat gurunya cewek, namanya Ibu Wur. Dia ingat
juga seorang teman putrinya tidak meneruskan belajar di kelas enol Susteran
Fransiskanes ini karena dia olok-olok. Pak De Gogo pernah mengaku "ibu
saya sering memarahi saya karena sejak kecil sudah punya hobi ngolok-olok orang lain".
Setelah enam tahun bertengger di Sekolah Rakyat Latihan
Pangudi Luhur Yogyakarta, dengan guru-guru seperti Bruder Petrus, Pak
Bedo, Pak Jumadi dan Pak Darmobroto, dia mengaku mendapat 'panggilan'
dan masuk ke Seminari Menengah St Petrus Canisius di Mertoyudan, Magelang.
Namun, menurut pengakuannya ternyata mencopot dan memakai jubah dengan
puluhan kancing itu memang pekerjaan yang melelahkan. Oleh karenanya 'sang
terpanggil' ini memutuskan - dan juga diputuskan oleh Praeses Seminari
waktu itu Romo Naryo SJ - untuk mencari profesi yang tidak banyak kancing
jubahnya. Di Mertoyudan dia diasuh oleh Romo Van Voorst.
Pindahlah dia ke SMU Johannes de Britto di Yogyakarta.
Tiga tahun di sana dengan segala pengalaman model de Britto - dengan pak
Bon, Pak Darmo, Pak Suyudi, Pak Mantri, Pak Biyat, Romo Setyokaryono dan
Romo Schoonhoff serta Pak Kasiyo - dilanjutkan dengan kuliah di Fakultas
Hukum Universitas Gadjah Mada di Stihinggil, Kraton, Yogyakarta.
Selepas itu, dia bergiat di radio amatir Radio Angkatan
Muda Yogyakarta dan sempat menyiar untuk acara Universitaria di RRI Nusantara
II, Yogyakarta. Riwayat berikutnya membawa dia ke Surakarta dan Jakarta
- dari Berita Yudha, Parikesit, Ekspres, The Indonesia Times, The Jakarta
Post dan editor koran Riyadh daily di Riyadh, Saudi Arabia serta akhirnya
selama 16 tahun terakhir ini di BBC London.
Konon pula, Bu Gogo - Catharina Prayoga atau Bu Rina
- mengaku 'tertipu' oleh Pak Gogo ... tetapi "wong sudah kebacut, ya sudah
saya jalani jadi isterinya selama lebih 25 tahun ini." Pak de Gogo sendiri,
katanya, mempunyai versinya sendiri mengapa sampai mempersunting Bu Rina
dari Boyolali, Surakarta. Dia bilang "wajah dan kekayaan cukup menjadi
daya tarik". Apakah memang itu modal Pak De Gogo? Silakan nilai sendiri
...
Kalau soal hobi Pak De Gogo yang kini berputera semata
wayang, Titot (Egidius Prayoga), hanya mengatakan, "kumpul-kumpul, ngobrol
dan sedikit olah raga" adalah kesenangannya. Makanan? Apa saja dilahapnya
- belum pernah dalam sejarah hidupnya Pak De Gogo menolak hidangan yang
disiapkan di depannya. Apa saja masuk ...
Si Titot kini berrsekolah di St Dominic's Sixth Form
College di Harrow-on-the-Hill dan bercita-cita menjadi designer - entah
desain celana dalam, mobil, rumah atau pesawat terbang. Pokoknya, the
ultimate goal is "jadi orang baik, sebaik para romo yang baik".
Kini Pak De Gogo dengan dukungan Bu Rina bersemangat
untuk bisa mengajak saudara-saudaranya dalam lingkungan Keluarga Katolik di Inggris
mengumpulkan dana sekadarnya. Dana itu bukan untuk hal-hal yang muluk-muluk. Sedikit
pound sterling yang dikumpulkan oleh kalangan keluarga dan mahasiswa dan
pekerja Katolik di UK bisa disumbangkan ke sejumlah badan sosial di Indonesia.
"£100 saja akan sudah bernilai satu seperempat juta rupiah ... kalau itu
kita kirimkan kepada mereka yang paling kesulitan hidup atau pendidikannya,
akan merupakan donasi yang besar".
|

Keluarga Prayoga Bersama Romo Michael Agung
dan Romo Rai di Malang |
Dia mengatakan 'tidak menyukai hal-hal yang terasa akbar
dan gemerlap. Kumpulan sahabat dalam lingkungan kecil, kalau itu kompak
akan terasa hangat.' Di KUK ini dia - dan semoga para sahabat Katolik
lainnya - merasa 'krasan'.
Contact details:
| Alamat |
: |
162 Camrose Avenue
Edgware
Middlesex HA8 6BX |
| Telepon |
: |
020-89306770 |
| Email |
: |
fprayoga@aol.com |
ROMO DAVID DJERUBU, SVD
| Bagaimana Engkau mengenal aku? (Yoh 1:48)
Itu bunyi moto tahbisan saya 29 September,
12/13 tahun lalu. Saya tidak bermaksud untuk jelaskan motto itu di sini.
Tapi kata kunci "mengenal" itu prominent bukan saja supaya 'dicinta dan
disayang' oleh sesama tapi juga supaya dicinta dan disayang oleh Tuhan.
Rupanya harus lebih sering ketemu Tuhan supaya dicinta dan disayangiNya.
Saya juga mau dikenal, disayang dan dicintai teman-teman. Itu manusiawi.
|
 |
Kenapa mau jadi imam? Sampai sekarang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.
Setiap kali saya berpikir dan coba merumuskan kata-kata alasannya selalu
saja ada suara yang mengatakan, 'jangan karang-karang... jangan cari-cari
alasan..." Saya hanya bisa katakan bahwa saya bangga berdiri di depan altar
untuk persembahkan misa (entah pribadi atau bersama umat) dan berkhotbah.
Sederhana sekali. Tidak berubah sejak pertama saya berkenalan dengan
misionaris Polandia dan Slowakia yang bekerja di tempat asal saya Mukun,
Ruteng, Flores Barat puluhan tahun lalu. Rasa bangga akan misa dan khotbah
di altar Tuhan itu yang memotivasi dan menguatkan saya untuk tetap menjawab
'YA' panggilan Tuhan ini.
Bapa dan Mama saya yang adalah petani sederhana di Manggarai, Flores itu
sudah tiada ketika saya ditahbiskan. Yang bersyukur bisa berbahagia bersama
saya hanya kedua kakakku (saudara dan saudari). Tapi saya percaya Bapa dan
Mamaku turut berbangga dan terus mendampingi putra bungsu mereka dalam
ziarah panggilannya ini.
Sesudah ditahbiskan saya mengajar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Kateketik Ruteng selama 4 tahun. Salah satu tugas yang
dipercayakan di sana ialah mendampingi mahasiswa mengelola Buletin Kampus.
Dari STKIP lalu diangkat menjadi pastor paroki di salah satu paroki di
Keuskupan Ruteng selama 6 tahun sebelum ditunjuk oleh pemipin SVD Ruteng
(Provinsial) 3 tahun lalu untuk studi lanjut bidang Komunikasi. Karena itu
setelah 7 bulan kursus bahasa Inggris, saya langsung ambil diploma bidang
produksi/editing radio dan televisi di Kairos (St. Patrick College) Maynooth,
Irlandia sampai Mei 2003.
Bermodalkan Diploma itu saya berani maju tingkat
master bidang komunikasi itu di Universitas Leicester sekarang, Saya kira
kendala utama saya dalam studi di Leicester sampai sekarang ialah bahasa
Inggris. Masih kewalahan memahami secara tepat idea buku dan lalu merumuskan
atau mengungkapkannya dalam bahasa Inggris yang benar. Karena itu
kadang-kadang berjuang asal lulus, hehehe... Mungkin juga sudah terlalu tua
untuk studi (42 tahun/21 September 1962) dan belum lagi otak sudah karat
dengan hal-hal praktis dan sederhana selama sebagai pastor paroki.
Saya kira demikian sedikit tentang 'siapa saya'. Doa dan dukungan keluarga
besar KUK senantiasa saya harapkan.
Leicester, 25 Januari 2004.
Rm. David Djerubu, SVD.
Contact details:
| Alamat |
: |
Freemens Common House
block JJ1
163 Welford Road
Leicester LE2 6BF |
| Telepon |
: |
07950 236 865 |
| Email |
: |
djerubu21@hotmail.com |
|